Recap Fifties Professionals Episode 1
Episode pertama Fifties Professionals langsung terasa padat. Awalnya saya mengira ini hanya drama aksi tentang mata-mata, tetapi ternyata ceritanya juga banyak membahas kehidupan para agen yang sudah meninggalkan masa kejayaannya. Justru perpaduan antara aksi dan kehidupan sehari-hari itu yang membuat episode pembuka ini terasa menarik.
Cerita dibuka dengan montase bergaya komik yang memperkenalkan para karakter utama maupun pendukung. Setelah itu, latar langsung berpindah ke China.
Seorang tentara berseragam kamuflase menyusup ke area penyimpanan kontainer yang sangat besar. Saat ia membuka salah satu kontainer, seseorang dari dalam langsung mengarahkan pistol kepadanya. Adegan singkat ini langsung memberi kesan bahwa ada operasi rahasia besar yang sedang berlangsung.
Dari sana, cerita bergeser ke Daeungjeon Hall di Korea Selatan.
National Security Advisor Kwon Soon-bok bertemu dengan Jo Seong-won, pemimpin Anti-Communist Investigation Team. Keduanya sedang berduka atas kematian tiga agen mereka.
Jo mengusulkan agar operasi dihentikan. Ia mendapat informasi bahwa ada agen NIS yang bekerja sama dengan pihak Korea Utara dalam jaringan narkoba. Namun Kwon menolak mundur. Menurutnya, mereka justru harus menemukan pengkhianat yang ada di dalam tubuh NIS.
Kwon bahkan sudah memiliki tersangka utama, yaitu Han Gyeong-wook, Wakil Direktur Anti-Communist Investigation Team.
Tak hanya itu, Kwon juga mengungkap keberadaan seorang agen perempuan Korea Utara bernama Black Pearl. Ia berasal dari Counterintelligence Bureau dan dikabarkan membelot. Sebelum kabur, Black Pearl berhasil membawa dana gelap milik pejabat tinggi Korea Utara sekaligus data mengenai operasi penyelundupan mereka.
Yang paling penting, data tersebut disebut-sebut berisi bukti keterlibatan Han Gyeong-wook dalam operasi narkoba.
Saat Kwon menjelaskan semua itu, penonton diperlihatkan seorang wanita yang mencuri berlian dan sebuah USB dari ruangan gelap. Adegan ini mengisyaratkan bahwa wanita tersebut adalah Black Pearl. Sayangnya, Kwon mengatakan mereka sudah kehilangan kontak dengannya.
Kemudian muncul karakter baru bernama Shibasaki Michiko, agen dari Japanese Intelligence Bureau. Ia dikabarkan telah membeli informasi yang dimiliki Black Pearl.
Menurut Kwon, Black Pearl akan berangkat menuju Jepang menggunakan kapal feri dalam waktu dua hari. Karena itu, mereka harus mencegatnya sebelum data tersebut jatuh ke tangan pihak lain.
Jo mengatakan bahwa ia memiliki orang yang tepat untuk menjalankan misi tersebut.
Di sisi lain, penonton diperkenalkan pada Shadow, agen operasi hitam terbaik milik NIS. Dalam satu adegan aksi, Shadow sendirian menghadapi sekelompok orang di sebuah ruangan bercat merah. Kemampuannya benar-benar diperlihatkan tanpa banyak basa-basi.
Melihat kemampuan Shadow, Jo dan Kwon sepakat memakai jasanya. Hanya saja, keberadaan agen ini harus tetap menjadi rahasia.
Tanpa mereka sadari, seseorang diam-diam memotret Jo dan Kwon saat keluar dari gedung. Belakangan diketahui orang tersebut bekerja untuk Han Gyeong-wook.
Sementara itu, Major Ri Chol-jin dari Ministry of People’s Armed Forces melaporkan perkembangan situasi kepada Han. Sebagai balasan atas keterlibatan Shadow, mereka memutuskan mengirim agen terbaik bernama Bulgae.
Han juga meminta bantuan Hwang Hwa-san, pemimpin Hwasan Sect, untuk mencarikan petarung terbaik lainnya. Dari sinilah Beom-ryeong diperkenalkan.
Dua hari kemudian, semua tokoh utama akhirnya berada di kapal yang sama.
Black Pearl berada di atas kapal, begitu pula Shadow, Bulgae, dan Beom-ryeong. Ketiganya mendapat misi yang sama, yaitu merebut data milik Black Pearl sebelum pihak lain berhasil mendapatkannya.
Pertarungan pun tidak terhindarkan.
Namun hasil akhirnya tidak sesuai harapan siapa pun. Han mendapat laporan bahwa agennya gagal memperoleh paket tersebut karena lebih dulu direbut oleh agen Korea Utara lainnya.
Situasi semakin memburuk ketika Kwon Soon-bok dibunuh oleh sosok misterius.
Jo langsung memperingatkan Shadow, yang bernama asli Jeong Ho-myeong, agar menghilang sebelum dirinya ikut menjadi sasaran.
Setelah itu cerita melompat sepuluh tahun ke depan.
Kini tahun 2026, dan kehidupan para agen legendaris itu benar-benar berubah.
Ho-myeong menjalani hidup sederhana bersama keluarganya sambil mengelola Oran Chinese Restaurant sebagai koki.
Bulgae, yang kini dikenal sebagai Ye-sun, menjalani terapi hipnosis sekaligus bekerja sebagai manajer ground staff. Ironisnya, ia terus menerima perlakuan tidak menyenangkan di tempat kerja dan hampir tidak pernah melawan.
Sementara itu, Beom-ryeong masih belum menyerah mencari paket yang hilang sepuluh tahun lalu. Ia bahkan masih rutin menemui bosnya yang sedang dipenjara.
Episode ini juga memperkenalkan Gong-bok, anggota kelompok Beom-ryeong yang menyamar sebagai pegawai minimarket. Di balik pekerjaan biasa itu, ia diam-diam mengumpulkan informasi tentang kasus lama yang belum selesai.
Di restoran Oran, Ho-myeong menjalani kehidupan yang terlihat damai. Namun berita televisi mengabarkan bahwa Han Gyeong-wook kini mencalonkan diri sebagai wali kota Imcheon.
Masa lalu ternyata belum benar-benar pergi.
Ho-myeong kemudian diminta mengantar pesanan ke Heaven Capital sekaligus menagih pembayaran yang belum dilunasi.
Di lokasi itu, ia melihat aktivitas perjudian dan minuman keras berlangsung terang-terangan. Orang-orang di sana juga memperlakukannya dengan kasar. Meski begitu, Ho-myeong memilih pergi tanpa membuat keributan.
Di Imcheon, penyelidikan lain juga sedang berlangsung.
Gang Yeong-ae bersama dua detektif menangani kasus kematian seorang wanita. Para detektif menganggap kasus itu sebagai bunuh diri, tetapi Yeong-ae memiliki pendapat berbeda.
Beberapa saat kemudian, sebuah kilas balik memperlihatkan identitas korban.
Korban tersebut ternyata adalah Black Pearl.
Yeong-ae langsung mengenalinya karena sebelumnya wajah Black Pearl sempat muncul dalam siaran langsung yang viral. Setelah itu, salah satu detektif diam-diam menelepon seseorang dan mengatakan agar tidak perlu mengkhawatirkan penyelidikan tersebut.
Di sisi lain, kehidupan Beom-ryeong justru terlihat jauh lebih santai. Setiap pukul lima sore ia memutar lagu romantis dan mengisi kembali stok makan siang di minimarket. Ia bahkan berusaha mendekati seorang polisi wanita yang sering datang ke sana.
Sementara itu, Gong-bok semakin serius menelusuri semua orang yang terlibat dalam insiden sepuluh tahun lalu.
Di restoran, Ho-myeong dan rekan-rekannya lagi-lagi tidak berani membantah istrinya.
Setelah berselisih soal tagihan Heaven Capital, Ho-myeong pergi ke sebuah kabin terpencil. Di sana ia minum meski sedang mengonsumsi obat, lalu memeriksa ponselnya untuk mencari sinyal yang berkaitan dengan kasus lama. Hasilnya tetap nihil.
Penyelidikan Yeong-ae terus berlanjut.
Saat kembali ke apartemen Black Pearl, ia menemukan pintu rahasia yang mengarah pada jejak penyelidikan Black Pearl mengenai paket yang hilang.
Di waktu yang sama, Ye-sun mengikuti saran dari terapisnya dengan mengenakan pakaian perempuan. Keponakan angkatnya, Nam-gil, sangat terkejut melihat penampilannya.
Pertengkaran mereka kemudian berubah menjadi persoalan yang lebih serius ketika Ye-sun menyadari surat kepemilikan rumah mereka telah hilang.
Ho-myeong kemudian menemui Jo yang menyamar sebagai penjual es krim di sebuah pasar.
Mereka membahas kematian Black Pearl dan langkah berikutnya yang harus diambil. Ho-myeong tampak ingin segera mengakhiri semua urusan yang belum selesai sejak sepuluh tahun lalu.
Namun pembicaraan itu terhenti karena ia harus menjemput putranya, Ji-woo, dari taman kanak-kanak.
Momen bersama Ji-woo memberi sedikit kehangatan di tengah cerita yang penuh ketegangan.
Sesampainya di rumah, Ho-myeong dan istrinya kembali berdebat mengenai biaya pendidikan Ji-woo. Ketika Heaven Capital kembali memesan makanan, Ho-myeong akhirnya kehilangan kesabaran. Kali ini ia bertekad mengambil sendiri uang yang belum dibayar.
Di sisi lain, Gong-bok akhirnya memastikan identitas asli Ho-myeong.
Ia adalah Shadow.
Sementara itu, Ye-sun datang ke Heaven Capital setelah mengetahui Nam-gil berjudi. Ia juga mendapati rumah mereka telah dijadikan taruhan demi mendapatkan uang.
Ye-sun mencoba menyelesaikan masalah tersebut, tetapi situasi berubah menjadi perkelahian.
Tak lama kemudian Ho-myeong dan Gong-bok ikut tiba di lokasi.
Episode pertama ditutup dengan Ye-sun yang menghajar para anak buah Heaven Capital tanpa kesulitan berarti, sementara Nam-gil menyaksikan semuanya secara diam-diam.
Ho-myeong hanya berdiri memandanginya.
Tatapan itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ia akhirnya menemukan Bulgae setelah berpisah selama sepuluh tahun.
Review Fifties Professionals Episode 1
Menurut saya, episode pembuka ini cukup berhasil memperkenalkan dunia Fifties Professionals. Yang paling menarik justru bukan adegan aksinya, melainkan perubahan hidup para karakter utamanya. Sulit rasanya membayangkan mantan agen operasi rahasia kini harus memikirkan tagihan, pekerjaan, keluarga, hingga masalah kesehatan.
Misteri tentang Black Pearl dan paket yang hilang jelas menjadi benang merah cerita. Namun saya justru lebih penasaran melihat bagaimana ketiga agen legendaris ini akan kembali bekerja sama setelah menjalani kehidupan yang benar-benar berbeda.
Adegan penutup menjadi favorit saya. Tidak ada dialog panjang atau momen dramatis berlebihan. Hanya tatapan Ho-myeong kepada Ye-sun yang langsung mengingatkan bahwa masa lalu mereka belum benar-benar berakhir.
Sebagai episode pembuka, saya rasa ceritanya berhasil membangun rasa penasaran. Aksi, komedi, dan misterinya sudah terasa seimbang, sementara pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi sepuluh tahun lalu membuat saya ingin segera melanjutkan ke episode berikutnya.