Recap Four Hands, Two Sonatas Episode 5: Persahabatan Pi-o dan Jeong-yo Diuji, Berakhir dengan Penembakan
Four Hands Two Sonatas Episode 5 dibuka dengan Pi-o yang terbangun di rumah sakit setelah bermimpi ditolak oleh kakeknya sendiri. Ji-hye duduk di sampingnya, jelas terlihat khawatir. Saat Jeong-yo menelepon ke ponsel Pi-o, Ji-hye yang mengangkatnya, dan dia langsung memperingatkan Jeong-yo untuk menjauh dari anaknya. Tapi Pi-o punya rencana sendiri, dia meminta ibunya menghubungi balik Jeong-yo supaya mereka bisa bertemu langsung.
Pertemuan itu jadi momen penting. Jeong-yo lega melihat Pi-o mulai pulih dari radang paru-paru, bahkan sempat mengajaknya main bareng setelah keluar rumah sakit. Tapi Pi-o punya kabar yang jauh lebih besar: dia memutuskan ikut Harmonie Competition, dan dia menantang Jeong-yo untuk ikut juga serta benar-benar serius. Jeong-yo bingung dengan perubahan sikap Pi-o yang tiba-tiba, tapi tetap setuju.
Ketika hanya berdua dengan ibunya, Pi-o mengungkapkan sesuatu yang lebih berat lagi. Baginya, kompetisi ini bukan sekadar ajang biasa, ini kesempatan terakhirnya untuk jadi pianis. Kalau kalah, dia akan berhenti total dari dunia musik. Di sisi lain, Jeong-yo bilang ke mentornya, Hyun-soo, bahwa dia ikut kompetisi ini salah satunya untuk membantu Pi-o bangkit. Hyun-soo tidak setuju dengan alasan itu dan menegur Jeong-yo, memintanya benar-benar berusaha menang, bukan asal-asalan demi Pi-o.
Cedera yang Terus Diabaikan
Minggu-minggu berikutnya diisi dengan latihan intensif dari kedua pianis, sampai akhirnya mereka mengirim rekaman audisi untuk seleksi. Di tengah proses itu, jari kelingking Pi-o cedera. Alih-alih berhenti, dia tetap memaksakan diri bermain seolah tidak terjadi apa-apa, keputusan yang bakal jadi masalah besar nanti.
Pi-o dan Jeong-yo sama-sama lolos masuk 60 besar kontestan dari seluruh dunia untuk Prague Harmonie Competition. Di babak pertama, Jeong-yo tampil memukau juri sekaligus membuat gentar peserta lain. Setelah gilirannya, dia mengecek keadaan Pi-o dan menyadari cedera di jari kelingkingnya. Dia menyuruh Pi-o memeriksakan lukanya, tapi Pi-o malah memintanya berhenti ikut campur. Yang lebih mengkhawatirkan, Ji-hye justru menawarkan obat tambahan supaya anaknya bisa terus bertahan, bukan mendorongnya mencari bantuan medis yang layak.
Cedera itu makin parah, tapi Pi-o terus mengabaikannya. Keduanya berhasil lolos ke babak final dengan 24 finalis, lalu dipindahkan ke asrama kapel, diminta menyerahkan ponsel, dan diberi partitur baru untuk latihan babak berikutnya. Pi-o berpamitan pada Ji-hye sebelum masuk ke kamarnya untuk mulai berlatih.
Ketegangan di Meja Makan Sampai Perkelahian di Lorong
Saat makan malam bersama finalis lain, Pi-o makan dalam diam, mengabaikan semua pertanyaan Jeong-yo soal cederanya. Ketika seorang pianis lain bertanya soal pilihan lagu bebas Jeong-yo, dia menjawab akan memainkan Rach Two, Piano Concerto No. 2 karya Rachmaninoff, lagu yang mengingatkannya pada percakapan terakhirnya dengan Hyun-soo. Hyun-soo sendiri menyarankan Pi-o memainkan lagu yang sama, supaya emosinya benar-benar tersalur lewat musik.
Malam itu juga, Tom, salah satu finalis, bertengkar dengan Pi-o karena dianggap bermain piano terlalu larut malam. Keesokan paginya, keduanya menjalani sesi wawancara jelang kompetisi, dan Pi-o dihujani pertanyaan soal kemungkinan kolaborasi dengan kakeknya sendiri, sang maestro Seung-woon, yang kebetulan hadir di kompetisi ini.
Situasi makin berat ketika Seung-woon menonton langsung permainan Pi-o, bukannya memberi dukungan, dia justru menyuruh cucunya sendiri mencari konduktor lain dan menolak mentah-mentah bekerja sama dengannya. Rasanya makin menyakitkan buat Pi-o ketika dia melihat Seung-woon justru berkolaborasi dengan Jeong-yo. Tom memergoki Pi-o mengintai latihan Jeong-yo dan mulai curiga ada yang tidak beres dengannya.
Malam itu, Tom kembali berkonfrontasi dengan Pi-o, dan kali ini berujung perkelahian serius. Jeong-yo turun tangan menenangkan keduanya dan mengantar Pi-o kembali ke kamarnya, memintanya istirahat sebelum benar-benar kelelahan. Pi-o mendorongnya menjauh dan kembali ke kamar sendiri, hanya untuk mendapati partitur miliknya hilang.
Partitur yang Hilang dan Pengorbanan Jeong-yo
Pi-o panik dan langsung menuduh Tom, menggeledah kamarnya tanpa hasil. Dia lalu melihat seseorang menyelinap keluar dari kapel dan mengejarnya, berharap bisa menemukan partiturnya kembali. Jeong-yo ikut mengejar Pi-o di tengah hujan, mencoba menghentikannya. Situasi malah memburuk, keduanya bertengkar, dan Pi-o sampai mencoba menyerang Jeong-yo secara fisik.
Malam itu, Jeong-yo mendatangi Tom dan Anna untuk memastikan apakah salah satu dari mereka mengambil partitur Pi-o. Keduanya membantah, dan Jeong-yo merasa benar-benar tidak berdaya. Keesokan paginya, ada detail yang luput dari perhatian semua orang di kapel: Anna berangkat untuk giliran kompetisinya sambil membawa partitur milik Pi-o.
Malam harinya, Jeong-yo menjenguk Pi-o dan membawakannya makanan. Pi-o mengaku ingin mengundurkan diri dari kompetisi, mengatakan bahwa menjadi musisi adalah impiannya seumur hidup dan sekarang terasa sia-sia. Karena tidak ada cara lain untuk mencegah sahabatnya menyerah, Jeong-yo memberikan partitur miliknya sendiri, dengan alasan dia sudah menghafal semua bagiannya. Di dalam lembaran itu, Pi-o menemukan catatan tulisan tangan Jeong-yo, petunjuk-petunjuk kecil yang dibuat untuk membantunya menemukan emosi dalam permainan piano. Pi-o pun mulai berlatih lagi.
Pi-o dan Jeong-yo sama-sama lolos ke babak final, tinggal berdua saja. Pi-o lebih dulu diantar ke lokasi kompetisi, sementara Jeong-yo masih bersiap-siap untuk menyusul.
Penembakan di Tengah Kompetisi dan Kemenangan yang Mengejutkan
Di lokasi acara, Seon-jo mencoba menggoyahkan Ji-hye dengan mengatakan bahwa Jeong-yo akan tampil lebih baik daripada anaknya. Sementara itu, Jeong-yo naik ke mobil yang seharusnya membawanya ke lokasi kompetisi, tapi para sopir justru membawanya ke tempat lain. Di saat bersamaan, Pi-o tampil di panggung meski masih cedera, dan penonton menyambutnya dengan sorak-sorai.
Untuk lagu bebasnya, Pi-o bermain bersama orkestra penuh sambil jarinya terus berdarah akibat cedera. Dia menahan rasa sakit dan memberikan penampilan yang bahkan membuat kakeknya sendiri, Seung-woon, terdiam kaget.
Di sisi lain, Jeong-yo baru sadar dia diculik oleh sopir-sopir yang dibayar untuk itu. Saat mencoba melarikan diri, salah satu penculik yang membawa senjata menembaknya. Jeong-yo jatuh ke danau dan mulai kehilangan banyak darah, sementara para panitia kompetisi mulai panik menyadari ada yang tidak beres.
Pi-o terlihat khawatir ketika Jeong-yo tidak kunjung muncul, dan tak lama kemudian, panitia mengumumkan bahwa Jeong-yo mengundurkan diri dari kompetisi. Pi-o langsung curiga bahwa Ji-hye ada hubungannya dengan hilangnya Jeong-yo.
Interogasi di Kantor Polisi dan Lompatan Waktu ke 2026
Malam itu, Ji-hye mendatangi kantor polisi, tempat Yeong-jeong dan Seong-joo sudah mendesak polisi untuk mencari Jeong-yo. Ji-hye bertemu Pi-o di sana dan mencoba menenangkannya, tapi Pi-o justru balik bertanya apakah ibunya terlibat dalam kejadian yang menimpa Jeong-yo. Momen ini terasa berat, pertanyaan seorang anak pada ibunya sendiri di saat paling rentan.
Meski begitu, Pi-o tetap diumumkan sebagai pemenang kompetisi, dan Seung-woon terpaksa memberi tepuk tangan untuk cucunya sendiri meski jelas tidak sepenuh hati.
Episode kemudian melompat ke tahun 2026. Pi-o kembali berada di Praha, kali ini untuk sebuah konser. Di tengah penampilannya, dia menerima telepon, dan di situlah episode ini berakhir.
Analisis Saya: Siapa Sebenarnya Dalang di Balik Hilangnya Jeong-yo?
Setelah menonton episode ini, saya justru makin curiga bahwa Ji-hye punya andil dalam apa yang menimpa Jeong-yo. Caranya menangani cedera Pi-o dengan sekadar memberi obat, bukan membawanya ke dokter, ditambah sikapnya yang terus-menerus berusaha menjauhkan Jeong-yo dari anaknya, membuat dia jadi tersangka paling masuk akal di permukaan.
Tapi menurut saya, ada kemungkinan lain yang lebih menarik. Saya justru curiga Seung-woon adalah dalang sesungguhnya di balik semua ini. Setelah mendengar permainan Jeong-yo, kemungkinan besar Seung-woon sadar bahwa Pi-o tidak punya peluang menang secara adil. Untuk menjaga reputasinya sebagai maestro yang punya cucu di kompetisi ini, dia mendorong Pi-o mencari konduktor lain, langkah yang terlihat seperti menjaga jarak, padahal bisa jadi cara dia mengontrol situasi dari belakang layar.
Ada juga kemungkinan bahwa orang misterius yang ditemui Ji-hye adalah ayah kandung Pi-o, kemungkinan orang yang sama yang dia telepon saat berada di kantor polisi. Saya pribadi tidak melihat Ji-hye sebagai sosok jahat di sini. Raut wajahnya yang terluka saat dituduh Pi-o terasa tulus, bukan seperti orang yang menyembunyikan rasa bersalah. Itulah kenapa saya belum berani sepenuhnya menuduhnya sebelum ada penjelasan lebih lanjut di episode berikutnya.
Satu hal yang pasti, saya berharap Jeong-yo masih hidup di Four Hands Two Sonatas episode selanjutnya. Adegan di danau itu benar-benar bikin tegang, dan kalau drama ini benar-benar menghilangkan salah satu dari dua tokoh utamanya baru di episode kelima, saya rasa banyak penonton, termasuk saya, akan mempertanyakan arah cerita ini.
Four Hands Two Sonatas Episode 4 | Four Hands, Two Sonatas Eps Guide | Four Hands Two Sonatas Episode 6