Kim Ji-won sebagai Gye Su-jeong membalik papan catur rumah sakit: dua operasi sekaligus, pasien VIP yang “diparkir”, dan jejak misterius bernama Doctor X.
Di Doctor X: Mafia in White episode 2 (tayang 10 Oktober 2026 di SBS dan Netflix), satu pertanyaan terus mengganggu saya: apa jadinya kalau ada dokter bedah yang benar-benar hanya mau bekerja sesuai isi kontraknya? Su-jeong menolak mengurus berkas, menjaga jam makan siang seperti benda pusaka, dan pulang tepat waktu meski operasi belum rampung. Anehnya, justru sikap “tidak mau repot” itulah yang membuat semua orang di Guseo University Medical Center (GUMC) kelabakan. Berikut rangkuman lengkap episodenya, lalu ulasan jujur saya di bagian akhir.
Sinopsis Episode 2: Tiga Arena, Satu Dokter Pembuat Onar
Supaya mudah diikuti, saya kelompokkan alur episode ini ke dalam tiga arena: lorong dan ruang rawat, meja operasi, dan meja permainan Jenga di luar rumah sakit.
Arena Pertama: Lorong Rumah Sakit dan Pasien yang Merasa Raja
Su-jeong terbangun dari mimpi buruk tentang kebakaran di luar gedung White Wings Medical Corps. Di GUMC, Sun-ae melapor kepada Direktur Bu Seung-gwon soal Park Gwang-cheol, donor VIP yang akan menjalani operasi.
Direktur Bu jelas kesal. Para dokternya dipaksa menuruti kemauan pasien hanya karena ia donatur besar, sehingga ia meminta Sun-ae menelusuri seluruh donor VIP. Para dokter pun membahas aksi protes para pekerja terhadap Gwang-cheol, yang dituduh belum membayar gaji karyawannya. Direktur Bu lalu bertanya kepada Dr. Do Yun-sik apakah ia bersedia melakukan operasinya, sementara Sung-gyu menjemput Gwang-cheol dari mobil dan mendorongnya masuk dengan kursi roda.
Di saat yang sama, Su-jeong naik bus menuju GUMC dan bertemu seorang remaja, Lee Ju-hui, yang tiba-tiba ambruk. Su-jeong menggendongnya ke dalam dan menyingkirkan Gwang-cheol dari kursi rodanya demi memastikan Ju-hui segera ditangani. Akibatnya, Sung-gyu terpaksa menggendong si VIP ke kamarnya. Saya tertawa, tapi juga paham: bagi Su-jeong, urutan prioritas ditentukan oleh kondisi pasien, bukan isi dompetnya.
Di ruang staf, Dr. Bae Heung-gon meledek Sung-gyu, dan keduanya membahas bagaimana Gwang-cheol memilih Dr. Do sebagai dokter bedahnya secara asal. Mereka mencoba mengusik Su-jeong, tetapi baru sadar ia memakai earphone peredam bising. Dr. Do meminta bantuannya untuk pekerjaan kecil seperti menuliskan berkas, tetapi Su-jeong mengingatkan bahwa kontraknya hanya mencakup operasi.
Setelah itu Sung-gyu menugaskan Tae-kyeong mengawasi Su-jeong. Tae-kyeong mengikutinya ke kafetaria dan menawarkan traktiran, lalu Su-jeong memesan beberapa dessert sekaligus. Sambil mencoba berbasa-basi, Tae-kyeong mendengar bahwa Su-jeong punya banyak utang dan hanya menerima uang saku bulanan 100.000 won dari Direktur Jang Hee-sook. Tae-kyeong iba dan mengira Hee-sook memperlakukan Su-jeong dengan buruk serta memaksanya bekerja untuk Locum Tenens Agency, jadi ia menawarkan dessert tambahan.
Gwang-cheol kemudian mengomel panjang kepada Direktur Bu dan para dokter tentang kelakuan Su-jeong. Ia mengingatkan bahwa dirinya harus selamat dari operasi dan memerintahkan semua orang memastikan ia tidak meninggal. Saat dibawa keluar, ia melihat seorang perempuan memegang jaket yang sama dengan para demonstran, lalu meminta petugas keamanan mengusir perempuan itu bersama saudarinya yang duduk di kursi roda.
Su-jeong turun tangan menghentikan para penjaga. Ju-hui muncul dan marah besar pada Gwang-cheol karena gaji bibinya dipotong. Ia menyerang Gwang-cheol, tetapi dihentikan petugas. Ibu Ju-hui, yang menggunakan kursi roda, berusaha menahannya. Di tengah keributan itu, Su-jeong mendorong Gwang-cheol ke area parkir dan meninggalkannya di sebuah lahan parkir. Adegan terlucu episode ini, tanpa saingan.
Dr. Jo Won-jin lalu memeriksa Ju-hui dan menjelaskan kondisi langkanya kepada Tae-kyeong dan Su-jeong. Di kafetaria, dua dokter penyakit dalam membuat keributan dan menuduh Su-jeong melangkahi wewenang karena mendiagnosis pasien padahal ia dokter bedah. Dokter bedah dan dokter penyakit dalam saling adu argumen, sementara Su-jeong fokus mengambil makanan tambahan.
Arena Kedua: Meja Operasi dan Dua Pasien yang Dijadwalkan Bersamaan
Sore harinya, para dokter bedah berkumpul membahas operasi-operasi mendatang. Dr. Do memaparkan rencana untuk Gwang-cheol, tetapi Su-jeong keberatan dan meminta pendekatan lain. Dr. Do dan Dr. Bae menegaskan prosedurnya rumit dan berisiko, sementara Su-jeong dengan santai bilang ia sanggup melakukannya.
Sung-gyu lalu mengabarkan bahwa karena Gwang-cheol meminta operasinya diprioritaskan, jadwal operasi Ju-hui akan digeser. Direktur Bu memutuskan kedua operasi berlangsung bersamaan: Su-jeong menangani Ju-hui, Dr. Do menangani Gwang-cheol.
Keesokan paginya, Tae-kyeong menyampaikan kepada ibu dan bibi Ju-hui bahwa Su-jeong yang akan mengoperasi, dengan alasan Dr. Do, yang sebelumnya berjanji menangani Ju-hui, sedang sibuk. Ju-hui menolak operasi karena peluang selamatnya kecil. Ia mengaku lelah sakit dan tidak mau lagi jadi beban bagi ibu dan bibinya.
Bagian ini yang menurut saya paling menyentuh. Su-jeong mengajaknya bicara baik-baik dan berjanji akan menyelamatkan nyawanya, dan Ju-hui akhirnya setuju.
Setelah itu Dr. Do menemui Su-jeong membahas operasi Ju-hui, tetapi Su-jeong meminta bertukar tugas dan menyebut Dr. Do tidak kompeten menangani Gwang-cheol. Malamnya Dr. Do memikirkan ucapan itu, sedangkan Su-jeong melewatkan makan malam karena memikirkan operasi. Keesokan harinya, sebelum operasi dimulai, Su-jeong kembali mengingatkan soal ketidakmampuan Dr. Do.
Saat operasi berjalan, Dr. Do menyadari kanker Gwang-cheol menyebar tidak wajar. Ia memilih menutup kembali tubuh pasien tanpa mencoba menyelesaikan operasi, dan Direktur Bu memanggil Su-jeong untuk membantu.
Sementara itu, ibu dan bibi Ju-hui menemukan surat yang ditulis Ju-hui untuk mereka dan menangis membacanya. Tae-kyeong berusaha mencegah Su-jeong meninggalkan operasi Ju-hui demi bayaran yang lebih besar, tetapi tidak digubris. Su-jeong menangani Gwang-cheol, sedangkan Dr. Bae mengambil alih operasi Ju-hui dan terkejut melihat betapa cepatnya Su-jeong menyelesaikan hemostasis pada tubuh Ju-hui.
Dr. Do memprotes pendekatan yang diusulkan Su-jeong, tetapi Direktur Bu memerintahkannya menurut. Su-jeong mengambil sebuah katup dari kaki Gwang-cheol dan memasangnya di pankreasnya. Lalu ia menyadari jam kerjanya sudah habis dan meminta Dr. Do menutup operasi sebelum ia absen pulang. Dr. Do geram, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Hee-sook mengingatkan Direktur Bu soal bayaran tambahan untuk bantuan Su-jeong di dua operasi itu.
Arena Ketiga: Meja Jenga dan Rencana Jangka Panjang
Malam setelah rapat bedah itu, Su-jeong bermain Jenga bersama Hee-sook dan kedua temannya, Yang Woong-gu dan Yoo Mi-kyung. Mereka sepakat Dr. Do tidak punya kemampuan bedah yang memadai untuk kasus Gwang-cheol. Hee-sook berpendapat hierarki rumah sakit dikuasai reputasi dan politik kantor, bukan kemampuan, dan mereka harus menunggu kesempatan untuk menjatuhkan GUMC.
Setelah Operasi: Air Mata, Uang Tunai, dan Petunjuk Doctor X
Direktur Bu kemudian menegur Dr. Do karena hendak menutup tubuh Gwang-cheol tanpa menuntaskan operasi. Dr. Do menangis dan menegaskan ia tidak meninggalkan pasiennya. Di ruang loker, Dr. Bae menduga Su-jeong sejak awal berencana menangani kedua operasi itu sendiri. Tae-kyeong mencari Su-jeong dan menemukannya sedang memeriksa Ju-hui yang beristirahat dengan ibunya di sisi ranjang. Sementara itu, keluarga Gwang-cheol kecewa karena ia selamat.
Keesokan harinya, Hee-sook menerima pembayaran operasi Gwang-cheol secara tunai dan berkata bahwa Gwang-cheol harus tetap hidup supaya bisa menebus kejahatannya.
Di ruang staf, Dr. Bae dan Sung-gyu membahas bagaimana Su-jeong nyaris membahayakan pasien dengan teknik bedah berisiko. Dr. Bae menelusurinya dan menemukan bahwa satu-satunya pasien lain yang dioperasi dengan cara ini meninggal dua bulan kemudian. Teknik itu ternyata pernah dipakai pada pasien di White Wings Medical Corps, dan dokternya tercatat sebagai Doctor X. Episode ditutup dengan Direktur Bu menghadapi Su-jeong yang sesumbar tidak pernah gagal.
Ulasan: Ketika Profesionalisme Dianggap Sebagai Pembangkangan
Sudut pandang yang paling menarik bagi saya di episode ini adalah cara drama menempatkan batas kerja sebagai senjata karakter. Su-jeong tidak berteriak melawan sistem. Ia hanya membaca kontraknya, makan siang jam 12, dan pulang jam 6, dan itu sudah cukup membuat dokter-dokter yang bergantung pada hierarki terlihat kikuk. Ia bahkan tidak sadar sedang di-bully sampai Tae-kyeong yang memberitahunya.
Tae-kyeong sendiri jadi pasangan interaksi yang menyenangkan buat Su-jeong. Su-jeong tidak datang ke GUMC untuk mencari muka atau mencari tempat, melainkan sebagai dokter bedah percaya diri yang tidak peduli penilaian orang. Melihatnya “menertibkan” dokter-dokter arogan di sekitarnya terasa memuaskan.
Yang Berhasil
- Humor gelapnya pas takarannya. Pasien VIP yang “diparkir” dan traktiran dessert Tae-kyeong menjaga suasana tetap ringan di tengah cerita rumah sakit yang berat.
- Cerita Ju-hui. Penolakannya, surat untuk keluarga, dan janji Su-jeong membuat operasi itu benar-benar punya taruhan emosional.
- Karakter Su-jeong konsisten. Jam makan siang dan jam pulang yang kaku terasa seperti ciri khas, bukan sekadar gimmick.
- Petunjuk Doctor X di akhir. Kaitan ke White Wings Medical Corps membuat kasus mingguan punya benang merah.
- Hee-sook yang tenang tapi berbahaya. Sambil main Jenga, ia menyiapkan rencana menjatuhkan rumah sakit. Kombinasi yang menarik.
Yang Kurang
- Gwang-cheol terlalu satu dimensi. Pasien kaya yang semena-mena adalah karakter yang sudah sering kita lihat, dan di sini nyaris tanpa lapisan.
- Dr. Do rawan jadi sasaran tembak. Su-jeong terus mengingatkannya soal ketidakmampuannya, dan saya khawatir pola ini cepat terasa berulang.
- Humor kebiasaan Su-jeong bisa jadi formula. Gimmick jam makan dan jam pulang sudah efektif, tetapi jika terus diulang bisa kehilangan daya kejut.
- Tujuan akhir Hee-sook masih samar. Kita tahu ia ingin menjatuhkan GUMC, tetapi belum jelas caranya dan alasannya, sehingga beberapa adegan terasa baru sebatas persiapan.
Skor Akhir
8,5/10. Su-jeong menyenangkan ditonton, subplot Ju-hui menyentuh, dan akhir episodenya membuat penasaran. Beberapa karakter pendukung yang masih datar menahan skor ini dari nilai sempurna.
FAQ
Nonton Doctor X: Mafia in White di mana? Drama ini tayang di SBS Korea Selatan dan tersedia di Netflix secara global, dengan episode baru setiap Jumat dan Sabtu.
Berapa jumlah episodenya? Total 12 episode, tayang 9 Oktober sampai 14 November 2026.
Apakah drama ini adaptasi? Ya, ini adaptasi Korea dari drama medis Jepang Doctor X: Surgeon Michiko Daimon.
Doctor X: Mafia in White E1 | Doctor X: Mafia in White Episode 3