Sinopsis & Review Doctor X: Mafia in White Episode 1: Dokter Bedah Lepas yang Menolak Basa-Basi

Sari 9 menit baca 4 dilihat 0 komentar
Sinopsis & Review Doctor X: Mafia in White Episode 1: Dokter Bedah Lepas yang Menolak Basa-Basi

Kalau ada satu hal yang langsung terasa dari Doctor X: Mafia in White episode 1, itu adalah keberanian karakternya. Gye Su-jeong, dokter bedah freelance yang diperankan Kim Ji-won, masuk ke Guseo University Medical Center (GUMC), menolak tunduk pada siapa pun, dan dalam satu episode sudah membuat peta kekuasaan rumah sakit itu terguncang.

Drama medis bernuansa noir produksi SBS ini adalah versi Korea dari drama Jepang Doctor-X: Surgeon Michiko Daimon. Tayang perdana 9 Oktober 2026, dan bisa disaksikan mingguan di Netflix. Berikut sinopsis lengkapnya, lalu ulasan jujur saya di bagian akhir.

Info singkat

  • Stasiun TV: SBS (Jumat dan Sabtu), tayang mingguan di Netflix
  • Jumlah episode: 12
  • Sutradara / penulis: Lee Jung-rim / Pyeon Seong-geun
  • Pemeran utama: Kim Ji-won sebagai Gye Su-jeong
  • Rating episode perdana: 11,4% secara nasional, puncaknya 12,9%

Sinopsis Doctor X: Mafia in White Episode 1

Api di Masa Lalu, Meja Biliar di Masa Kini

Episode dibuka dengan kilas balik kebakaran di White Wings Medical Corps. Su-jeong berdiri menatap api sambil menggandeng tangan seorang gadis kecil. Adegannya singkat, tapi cukup untuk meninggalkan rasa penasaran.

Lompat ke masa kini, Su-jeong dan Jang Hee-sook sedang bermain biliar. Di tempat lain, seorang dokter magang muda bernama Park Tae-kyeong sedang berkumpul bersama teman-temannya. Lalu seorang pria tiba-tiba kesakitan karena nyeri perut, dan Tae-kyeong mencoba menolong. Su-jeong yang melihat gelagatnya langsung menyimpulkan bahwa pria itu mengalami hernia inguinalis yang pecah. Ia melakukan reduksi manual sementara, lalu memanggil ambulans. Saat paramedis memintanya ikut, ia menolak, menyuruh Tae-kyeong yang menemani pasien, dan tidak mau menyebutkan siapa dirinya. Tidak ada penjelasan, tidak ada pamer. Saya suka sekali dengan cara itu.

Pesta Wali Kota dan Hari Pertama yang Tidak Biasa

Di sisi lain, para dokter GUMC merayakan terpilihnya Dr. Im Ho-seok sebagai wali kota. Ho-seok berterima kasih kepada Direktur GUMC Dr. Kim Myeong-seop dan Ketua Dr. Gu atas dukungan mereka. Dr. Bu Seung-kwon tampak lelah melihat para pria saling menjilat. Saat pergi dari pesta, ia tak sengaja mendengar Dr. Do Yoon-sik berbicara dengan seseorang soal dokter-dokter baru yang mengundurkan diri.

Keesokan paginya, Tae-kyeong memulai hari pertama sebagai dokter magang di GUMC. Ia berkenalan dengan para dokter residen yang tampak kelelahan dan kelebihan beban kerja. Direktur Kim sendiri kesal karena banyak dokter hengkang akibat kebijakan ketat yang diberlakukan sejak pandemi COVID-19. Ia membahasnya bersama Dr. Do, Dr. Bae Hong-gon, dan Lee Sun-ae, yang mengaku sudah merekrut staf baru untuk membantu operasi. Para residen kemudian ikut Direktur Kim berkeliling visit, dan di saat itulah Su-jeong muncul sebagai ahli bedah freelance dari agen penyalur milik Hee-sook.

Su-jeong, alias Doctor X, langsung menunjukkan bahwa ia tidak mau menurut atau membungkuk pada “mafia medis” GUMC yang dipimpin Direktur Kim. Dr. Do jelas tidak senang.

Rapat Besar: Operasi Terbuka atau Laparoskopi?

Ketegangan memuncak di rapat staf yang membahas operasi Direktur Kim. Para dokter menyinggung bahwa ia sudah mendekati masa pensiun, tapi tetap ngotot menangani sendiri operasinya. Pasiennya Seo Byeong-gyu, pria 80 tahun dengan kanker kantong empedu. Dr. Bae menjelaskan bahwa Direktur Kim memilih operasi terbuka, lalu Direktur Kim meminta para staf menyaksikan dan berkata ia akan memilih dua dokter sebagai asisten.

Su-jeong langsung keberatan. Menurutnya, operasi terbuka akan sangat memberatkan tubuh pasien lansia. Direktur Kim membalas bahwa kanker masih stadium awal, sehingga seluruh sel kanker harus diangkat lewat operasi terbuka, dan ia menyebut bedah laparoskopi bisa membuat penyakit menyebar. Su-jeong tidak terima. Di depan semua staf, ia menuduh Direktur Kim memakai metode usang karena baru kebagian operasi setelah bertahun-tahun, dan menyarankan ahli laparoskopi yang menanganinya. Sun-ae mencoba menghentikannya saat Su-jeong menyebut Direktur Kim serakah, tapi sudah terlambat.

Usai rapat, Sun-ae menelepon Hee-sook untuk mengeluh. Hee-sook minta maaf, menawarkan diskon, dan menjamin bahwa Su-jeong adalah dokter bedah yang hebat.

Pemanis Tradisional, Riwayat Kerja, dan Alarm Pukul Enam

Direktur Kim lalu menemui Byeong-gyu, yang memujinya setinggi langit. Pasien itu bercerita bahwa ia bekerja di pabrik sarung tangan bedah dan sudah bertahun-tahun memasok sarung tangan ke rumah sakit. Direktur Kim memintanya menandatangani formulir persetujuan operasi. Istri Byeong-gyu menyodorkan pemanis tradisional sebagai tanda terima kasih. Direktur Kim merasa jijik dan diam-diam menyuruh Tae-kyeong membuangnya.

Sementara itu, Dr. Do, Dr. Bae, Tae-kyeong, dan Dr. Ma Sung-gyu membaca CV Su-jeong dan mendapati ia pernah bekerja di banyak daerah terpencil. Dr. Do menempatkannya sebagai asisten Tae-kyeong dan Sung-gyu, supaya ia jauh dari Direktur Kim. Di mejanya, Su-jeong mempelajari rekam medis pasien. Tae-kyeong memperkenalkan diri dan mencoba basa-basi, tapi Su-jeong menolak, membuat sang magang kecewa. Setelah membaca bahwa Byeong-gyu pernah bekerja di pabrik lateks, ia berdebat dengan Sung-gyu soal keputusan menunjuk Direktur Kim sebagai operator. Salah satu komentar Sung-gyu membuatnya terperangah, dan perdebatan melebar ke para dokter lain. Lalu jarum jam menyentuh angka enam, dan ia pulang begitu saja karena jam kerjanya habis.

Dr. Bae menyuruh Tae-kyeong mencegahnya pergi, tapi Tae-kyeong tidak menemukannya di mana pun. Ia akhirnya sampai di kamar Byeong-gyu dan baru tahu bahwa Su-jeong sudah lebih dulu menemui pasien itu. Su-jeong menyarankan agar operasi ditunda atau mereka meminta dokter lain, tapi Byeong-gyu menolak.

Paginya, Hee-sook datang ke rumah sakit untuk meminta maaf kepada Direktur Kim atas nama Su-jeong. Su-jeong minta izin mengamati operasi, dan Direktur Kim mengizinkannya.

Hari Operasi: Sarung Tangan Bubuk dan Tumbangnya Sang Direktur

Dr. Bu juga hadir untuk mengamati, sementara Sun-ae dan Hee-sook membicarakan bagaimana Dr. Bu dulu disingkirkan dari posisi direktur demi mengutamakan Direktur Kim. Begitu operasi dimulai, Direktur Kim meminta sarung tangan berbubuk dan menyuruh para asisten memutar musik kesukaannya. Su-jeong melihat keringatnya mengucur deras dan bertanya-tanya apakah ia baik-baik saja. Ia bersiap mengambil alih, seolah sudah menduga ada yang akan terjadi.

Dugaannya benar. Direktur Kim memotong di tempat yang salah, tekanan darah pasien turun dan detak jantungnya naik. Direktur Kim ambruk, para dokter keluar ruang operasi membawanya, dan Tae-kyeong ditinggal sendirian bersama pasien. Saya ikut panik membayangkannya. Su-jeong menyuntikkan EpiPen ke Direktur Kim dan meminta para dokter menanganinya. Saat Tae-kyeong kebingungan, ia kembali dan mengambil alih. Operasi selesai dalam waktu rekor, sel kanker terangkat dengan mulus, dan pasien selamat. Dr. Bu terperangah dan mengambil kartu nama Hee-sook.

Dampaknya: Pemecatan, Sebutir Melon, dan Direktur Baru

Dr. Jo Won-jin menegur para dokter yang meninggalkan Tae-kyeong sendirian di ruang operasi. Su-jeong dipanggil dan ditanya soal pemberian epinefrin saat Direktur Kim ambruk, tapi ia pergi tanpa sepatah kata ketika jam enam tiba. Sung-gyu meminta Tae-kyeong membawanya kembali, sementara para dokter terus membahas bagaimana Su-jeong seolah sudah mengantisipasi tumbangnya Direktur Kim.

Esoknya, Su-jeong menjenguk Direktur Kim di kamar rawat. Alih-alih mengaku salah, ia tetap bersikeras bahwa operasi terbuka adalah keputusan yang benar. Su-jeong menolak berbohong, dan Direktur Kim pun murka. Ia meminta Dr. Do memecat Su-jeong, lalu Su-jeong menyerahkan kartu identitas serta jasnya sebelum pergi.

Saat makan siang, para dokter menduga-duga apakah Su-jeong membius Direktur Kim. Tae-kyeong lalu menyadari bahwa Direktur Kim alergi buah tropis dan mengalami reaksi setelah memakan melon. Dr. Bu menghadapi Direktur Kim soal masuk ruang operasi setelah makan melon padahal ia alergi, dan menambahkan bahwa sarung tangan lateks berbubuk memperparah reaksi serta membahayakan nyawa pasien. Direktur Kim dipecat, dan Dr. Bu menggantikannya sebagai direktur baru GUMC.

Setelah putaran visit pertamanya, Dr. Bu mempekerjakan kembali Su-jeong dengan bayaran lebih tinggi. Hee-sook memberi tahu tim bahwa Su-jeong tidak akan mengerjakan apa pun di luar kontraknya dan tidak mau berbasa-basi dengan staf. Dr. Do dan Dr. Bae kemudian sadar bahwa Hee-sook sengaja memberikan melon kepada Direktur Kim dan membantu Dr. Bu menyingkirkannya. Episode ditutup dengan para dokter mengejar Su-jeong yang pulang tepat di akhir shift.

Review Doctor X: Mafia in White Episode 1: Berani Menolak Basa-Basi di Dunia yang Dibangun dari Basa-Basi

Sejak episode pertama, Doctor X: Mafia in White sudah menunjukkan betapa pekatnya politik di rumah sakit ini. Di Korea Selatan, profesi dokter sangat dihormati, dan para junior diharapkan menjaga hubungan baik dengan senior lewat basa-basi dan balas budi. Kalau di sini, kita mengenalnya sebagai ewuh pakewuh, rasa sungkan yang kadang lebih kuat dari akal sehat. Su-jeong menolak semua itu. Ia percaya pada kemampuannya, dan itulah yang membuat karakternya begitu menarik. Ini juga kembalinya Kim Ji-won ke layar kaca setelah Queen of Tears, dan ia langsung tampil dengan sisi yang berbeda.

Yang Berhasil

Perkenalan Su-jeong. Menunjukkan kemampuannya sebelum kita tahu namanya adalah keputusan yang tepat. Adegan hernia di tempat biliar sudah cukup menjelaskan: ia cepat, tepat, dan tidak butuh pujian. Lalu adegan rapat memperlihatkan sisi satunya, perempuan yang berani mengatakan hal yang tabu di depan direktur senior.

Petunjuk yang ditanam dengan sabar. Pabrik sarung tangan, pabrik lateks, sarung tangan berbubuk yang diminta Direktur Kim, pemanis tradisional yang ia tolak, lalu melon. Ketika Tae-kyeong akhirnya menyambungkan soal alergi, kepingannya sudah tergeletak di meja. Rasanya seperti hadiah bagi penonton yang memperhatikan.

Rumah sakit sebagai panci tekanan. Pesta wali kota, para residen yang kelelahan, dan detail bahwa Dr. Bu disingkirkan dari kursi direktur demi Direktur Kim membuat GUMC terasa punya sejarah dan dendam yang nyata.

Kejutan soal Hee-sook. Mengetahui di penghujung episode bahwa bos agen penyalur itu sengaja memberikan melon mengubah cara saya memandangnya. Ia bukan sekadar perantara. Ia punya agenda sendiri.

Yang Kurang Pas

Direktur Kim terlalu mudah dibenci. Ia meremehkan orang, jijik pada hadiah dari istri pasien, dan menolak mengakui kesalahan setelahnya. Kejatuhannya memuaskan, tapi mudah ditebak. Saya ingin melihat lebih banyak lapisan pada dirinya sebelum ia tumbang.

Tae-kyeong masih sekadar penumpang. Hampir sepanjang episode ia disuruh-suruh, ditinggal di ruang operasi, atau membuntuti Su-jeong. Ia jendela kita ke GUMC, tapi belum punya pilihan nyata untuk diambil.

Bagian akhirnya terlalu padat. Melon, alergi, sarung tangan berbubuk, pemecatan, direktur baru, sampai skema Hee-sook semuanya menumpuk di penghujung. Banyak yang harus dicerna, dan saya ingin ada ruang lebih saat kemampuan Su-jeong mengantisipasi kejadian dipertanyakan.

Pulang jam enam mulai terasa familiar. Lucu di kali pertama. Di kali ketiga, ia terasa seperti jurus yang diulang, bukan ditemukan.

Pertanyaan yang Masih Menggantung

Kelihatannya Su-jeong datang ke GUMC untuk membalas dendam atas sesuatu yang mungkin terjadi bertahun-tahun lalu, dan kilas balik kebakaran di awal adalah petunjuk terkuat kita. Saya penasaran bagaimana hubungannya dengan Tae-kyeong akan berkembang, karena ia jelas tertarik pada Su-jeong. Saya juga masih memikirkan ucapan Dr. Bu bahwa Su-jeong adalah bidak yang mudah diganti. Apakah ia tahu lebih banyak tentang masa lalu Su-jeong, dan jangan-jangan ia sendiri terkait dengannya?

Skor Akhir: 8/10

Episode perdana yang tajam dan percaya diri, dengan tokoh utama yang karismatik dan jebakan cerdas yang terbayar tuntas. Dikurangi sedikit karena antagonis yang satu dimensi, magang yang pasif, dan bagian akhir yang terlalu penuh. Saya tetap menunggu episode berikutnya.

FAQ

Nonton Doctor X: Mafia in White di mana? Tayang di SBS setiap Jumat dan Sabtu, dan bisa ditonton mingguan di Netflix.

Berapa jumlah episode Doctor X: Mafia in White? Total ada 12 episode.

Apakah Doctor X: Mafia in White remake? Ya, ini adaptasi Korea dari drama medis Jepang Doctor-X: Surgeon Michiko Daimon.

Siapa pemeran Gye Su-jeong? Kim Ji-won memerankan dokter bedah freelance yang menjadi pusat cerita.

Next: Doctor X: Mafia in White Episode 2

Tinggalkan komentar