Recap Made in Korea Season 2 Episode 1: Saat Negara dan Keluarga Sama-sama di Ujung Tanduk

10 September 2026 — Diposting di K-Drama oleh idmas8 menit baca12 dilihat

Setelah penantian panjang, Made in Korea akhirnya kembali dengan season 2, dan episode pembuka ini langsung melompat sembilan tahun ke depan, tepatnya ke tahun 1979. Kalau kalian berharap awal yang santai untuk pemanasan, siap-siap kecewa, karena episode ini langsung menyeret penonton ke tengah kekacauan politik dan drama keluarga yang jauh lebih rumit dari sebelumnya. Kota Busan dan Masan sedang bergejolak, dipenuhi aksi protes menentang rezim Yushin yang dipimpin Presiden Park, seorang pemimpin yang sudah berkuasa selama dua dekade penuh.

Tiga Kekuatan yang Saling Mengintai di Lingkaran Kekuasaan

Yang menarik dari Made in Korea Season 2 Episode 1 adalah bagaimana serial ini langsung memperlihatkan betapa rapuhnya struktur kekuasaan di puncak pemerintahan. Direktur Cho dari KCIA dan Kepala Gwak dari Dinas Keamanan Presiden terus-menerus berselisih soal cara menangani gelombang protes, di mana Cho lebih memilih pendekatan tanpa kekerasan sementara Gwak menginginkan langkah yang lebih keras.

Di atas keduanya, secara pengaruh nyata, ada Cheon Seok-jung, sang Kepala Staf, yang selama ini berperan sebagai penengah yang netral. Tapi jangan tertipu, karena posisi itu sebenarnya cuma kedok. Cheon memanfaatkan perannya untuk diam-diam mengawasi kedua orang tersebut demi mengamankan posisinya sebagai orang kedua paling berkuasa di negara itu.

Presiden Park sendiri tidak tinggal diam. Ia merekrut Wakil Direktur KCIA, Baek Ki-tae, dan menjanjikan kursi direktur sebagai imbalan jika Ki-tae mau memata-matai atasannya sendiri, Cho. Di sisi lain, ada Mayor Jenderal Hwang Dae-sik dari Komando Keamanan Militer yang diam-diam membangun aliansi dengan satu tujuan: menggulingkan Cheon. Menyadari ancaman ini, Cheon memerintahkan Ki-tae untuk “mengingatkan” Hwang akan posisinya. Tak lupa, Cheon juga menekan Ki-tae untuk menambah dana kampanye karena Presiden Park kecewa dengan hasil pemilu sebelumnya, sambil menyelipkan satu kalimat yang terasa ringan tapi sebenarnya sangat berat: waktu Presiden Park sudah hampir habis.

Bisnis Gelap Ki-tae: Pabrik Sabu dan Wajah Baru di Baliknya

Di jalur kriminal, tangan kanan Ki-tae, Ki-hun, mengusulkan agar mereka mulai menjual sabu untuk mendongkrak keuntungan. Ki-tae langsung menolak mentah-mentah. Meski sudah terjun jauh ke dunia gelap, Ki-tae masih memegang keyakinan bahwa apa yang dilakukannya adalah bentuk cinta pada negaranya, bukan racun untuknya, dan ia menolak menjadi orang yang membawa sabu masuk ke Korea Selatan.

Namun laboratorium sabu miliknya tetap beroperasi penuh di bawah pengawasan baru. Dua pengawasnya adalah Chang-bae dan seorang perempuan berpenampilan mencolok ala istri mafia lengkap dengan mantel bulu, rambut tertata rapi, lipstik gelap, kalung mutiara, dan kacamata hitam. Perempuan itu ternyata adalah So-yeong, adik kandung Ki-tae sendiri, yang kini juga sudah menjadi seorang ibu.

Perang Suksesi Yakuza di Osaka

Cerita berpindah ke Osaka, di mana bos yakuza Ikeda yang sedang sakit mulai menyiapkan penerusnya agar posisinya tetap dihormati setelah lengser. Dua kandidat kuat muncul: Kimura, pengawal senior yang loyal, dan Yuji, putri angkat Ikeda yang berstatus Zainichi atau keturunan Korea di Jepang.

Untuk mengamankan posisinya, Yuji mendekati Harimoto, tokoh Zainichi berpengaruh lainnya dalam klan tersebut. Ia menawarkan sesuatu yang besar: membebaskan kakak Harimoto dari penjara di Busan dengan bantuan koneksi Ki-tae. Kakak Harimoto ternyata adalah Profesor Jang Gyeong-sik, yang dituduh melakukan spionase padahal ia hanya sedang berziarah ke makam keluarganya saat ditangkap KCIA.

Di titik inilah benang merah politik dan kriminal dalam cerita ini mulai terlihat jelas. Pyo, yang sekarang memimpin cabang Busan, mengakui pada Ki-tae bahwa ia sengaja mengarang narasi mata-mata komunis. Alasannya sederhana tapi kejam: semakin banyak “mata-mata” yang tertangkap, semakin besar pula perhatian Presiden terhadap KCIA, sehingga rival mereka, MSC, tidak mendapat panggung. Padahal secara pribadi, Pyo sendiri sebenarnya sepakat dengan para pengunjuk rasa dan juga ingin Presiden Park lengser.

Pyo juga membocorkan informasi penting lainnya kepada Ki-tae, ada pihak yang diam-diam menjual sabu miliknya di Busan tanpa izin, dan seorang jaksa bernama Oh Ye-jin kini sedang memburu jaringan tersebut.

Oh Ye-jin, Jaksa yang Tidak Main-main

Mengikuti gaya mentornya, Jaksa Jang Geon-young, Ye-jin turun langsung menyamar dan tidak segan menggunakan kekerasan. Ia memaksa seorang pengedar untuk membuka mulut, dan nama Chang-bae pun keluar. Sayangnya, Ye-jin kalah cepat. Ki-tae lebih dulu mengetahui bahwa Chang-bae mencuri darinya, dan menghukumnya lewat permainan rolet Rusia yang berakhir dengan kematian Chang-bae.

Reuni Keluarga Baek yang Penuh Ketegangan Tersembunyi

Sementara itu, adik bungsu Ki-tae, Ki-hyun, justru membangun karier secara bersih dan terhormat. Kini berpangkat letnan kolonel, ia dikenal disiplin dan selalu dipuji karena integritasnya. Tapi begitu nama Ki-tae disebut oleh atasannya, senyum tenangnya langsung berubah menjadi senyum yang dipaksakan.

Keluarga Baek berkumpul kembali untuk memperingati hari kematian ayah mereka. So-yeong berusaha menjadi penengah di antara dua kakaknya yang sudah lama tidak akur. Terlihat jelas bahwa Ki-hyun jauh lebih dekat dengan keponakannya dibanding dengan Ki-tae, dan ia tampak kesal ketika Ki-tae memintanya untuk mulai mengawasi gerak-gerik Mayor Jenderal Hwang.

Langkah Berani (dan Kejam) Yuji

Kembali ke Jepang, Yuji mencoba menguji sikap ayah angkatnya. Ketika Ikeda menolak menunjuknya sebagai penerus, Yuji tanpa ragu membunuhnya. Di sisi lain, Ki-tae menepati janjinya dengan membawa Profesor Jang Gyeong-sik ke Jepang tepat waktu untuk menghadiri pemakaman Ikeda.

Klan kemudian menggelar pemungutan suara untuk menentukan Kumicho baru, dan Yuji kalah tipis hanya dengan selisih satu suara. Harimoto, meski sudah membuat kesepakatan, justru mengkhianati Yuji dan memberikan suaranya untuk Kimura. Namun pengkhianatan itu tidak berlangsung lama. Ki-tae masuk dan membunuh para pengawal, sementara Yuji sendiri membunuh Kimura dan Harimoto, lalu mendeklarasikan dirinya sebagai pemimpin baru klan tersebut.

26 Oktober: Malam yang Mengubah Segalanya

Episode ini ditutup dengan tanggal yang punya bobot sejarah nyata, 26 Oktober. Presiden Park, Cheon, Direktur Cho, dan Kepala Gwak sedang makan malam bersama ketika suasana memanas. Cho terus membela para pengunjuk rasa, membuat Park murka atas apa yang dianggapnya sebagai bentuk pembangkangan terang-terangan. Merasa ada yang tidak beres, Cheon menelepon Ki-tae dan memintanya segera datang.

Begitu Ki-tae tiba, suara tembakan terdengar dari dalam rumah. Cho keluar dengan sempoyongan, merampas senjata Ki-tae, lalu kembali masuk sementara suara tembakan terus terdengar. Setelah semuanya mereda, Ki-tae baru menyadari bahwa Presiden Park telah tewas.

Kenapa Episode Pembuka Ini Terasa Jauh Lebih Berat dari Season 1

Alih-alih membuka cerita dengan pelan, serial ini langsung memperluas skala ceritanya tanpa kehilangan sisi personal yang membuat penonton terikat secara emosional sejak awal. Lompatan waktu sembilan tahun terasa sebagai keputusan yang tepat karena penonton langsung dibawa ke titik di mana semua hubungan, baik politik maupun keluarga, sudah berada di titik jenuh.

Hal yang paling menarik perhatian saya adalah bagaimana latar belakang politik rezim Yushin dan gelombang protes 1979 tidak sekadar jadi latar cerita, tapi benar-benar menjadi mesin penggerak plot. Manuver diam-diam Cheon terhadap Cho dan Gwak, rekrutmen penuh kecurigaan dari Park kepada Ki-tae, sampai ambisi terselubung Hwang, semuanya terasa relevan dan saling terkait. Ini membuat setiap keputusan yang diambil Ki-tae terasa bukan semata soal ambisi pribadi, melainkan strategi bertahan hidup di dalam sistem yang sedang memakan dirinya sendiri.

Pengakuan Pyo soal rekayasa kasus mata-mata jadi salah satu momen yang paling mengganggu pikiran saya. Ada sesuatu yang menyedihkan sekaligus mengerikan dari seorang tokoh yang sebenarnya sepakat dengan tujuan para pengunjuk rasa, tapi tetap memfitnah orang-orang tidak bersalah seperti Profesor Jang Gyeong-sik demi keuntungan dan rasa aman. Ini bukan kejahatan yang tampil dramatis dengan monolog jahat, tapi kejahatan yang terasa biasa saja, dan justru karena itu terasa lebih menyakitkan.

Kemunculan So-yeong sebagai pengawas pabrik sabu dengan gaya mafia yang begitu teatrikal terasa seperti sentuhan yang menyegarkan di tengah cerita yang berat. Serial ini juga tidak membuang waktu untuk mengungkap identitasnya, dan momen kecil ini justru menunjukkan seberapa jauh keluarga Baek telah bergeser dari kehidupan yang bisa disebut normal. Di sisi lain, senyum terpaksa Ki-hyun saat nama Ki-tae disebut adalah contoh bagus bagaimana serial ini mampu menyampaikan banyak hal lewat momen kecil tanpa perlu dialog panjang.

Alur cerita di Osaka pada awalnya terasa seperti cabang cerita yang terpisah, tapi caranya terhubung kembali lewat Profesor Jang dan kakak Harimoto justru menunjukkan penulisan naskah yang cermat. Kebangkitan Yuji yang dingin dan penuh perhitungan, sampai tega membunuh ayah angkatnya sendiri lalu kedua rivalnya dalam satu episode saja, langsung menempatkannya sebagai karakter baru yang benar-benar berbahaya. Saya sama sekali tidak menyangka pemungutan suara suksesi ini akan berakhir dengan pertumpahan darah secepat itu, tapi hal tersebut berhasil karena serial ini sudah membangun premis bahwa loyalitas di dunia ini bisa dibuang begitu saja ketika tidak lagi berguna.

Dan tentu saja, bagian penutup episode ini yang paling membekas. Menggunakan tanggal 26 Oktober sebagai penutup adalah keputusan berani karena tanggal itu punya makna sejarah yang nyata, dan serial ini berhasil membangun ketegangan malam itu secara perlahan tanpa terasa murahan. Momen ketika Cho merampas senjata Ki-tae dan kembali masuk ke dalam rumah benar-benar membuat saya terdiam sejenak. Ketidakjelasan situasi, Ki-tae yang kebingungan, suara tembakan yang terus terdengar, hingga kepastian kematian Presiden Park baru terungkap setelah semuanya mereda, adalah cara yang sangat efektif untuk membangun ketegangan.

Kalau harus mencari kekurangan, Made in Korea Season 2 Episode 1 memang membawa terlalu banyak alur sekaligus, mulai dari perebutan kekuasaan di KCIA, bisnis sabu, perang suksesi di Osaka, sampai ketegangan keluarga Baek. Ada beberapa bagian yang menurut saya bisa diberi ruang bernapas sedikit lebih lama. Tapi ini hanya catatan kecil untuk episode pembuka yang berhasil membangun ulang dunianya dengan sangat efisien sambil tetap menghadirkan bobot emosional dan politik yang nyata.

| Made in Korea Season 2 Episode 2

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *