Kalau kamu pernah merasa kerja keras bertahun-tahun tapi hidup rasanya jalan di tempat, drama The Ordinary Jackpot kemungkinan besar bakal langsung kena di hati. Serial tvN yang tayang lewat TVING dan Netflix ini ditulis dan disutradarai oleh Yoon Young-bin, dengan Lee Jun-hyuk sebagai pemeran utama.
The Ordinary Jackpot Episode 1 tidak buru-buru memberi kejutan besar. Ia justru menghabiskan hampir seluruh durasinya untuk membangun satu hal: rasa lelah yang begitu familiar bagi siapa pun yang pernah kerja kantoran di kota besar.
Gong Eun-tae, Manajer yang Capek Duluan Sebelum Hari Dimulai
Eun-tae, tokoh utama kita, seorang manajer tim di perusahaan bernama Hongsung International, membuka episode dengan renungan bahwa kita semua sebenarnya adalah budak waktu. Kalimat pembuka seperti itu langsung memberi sinyal: ini bukan cerita tentang orang yang bersemangat mengejar karier, melainkan tentang orang yang sudah lama berhenti berharap banyak dari pekerjaannya. Begitu sampai kantor, gesekan dengan asisten manajernya, Yang Jun-ho, langsung terasa. Jun-ho bersikap seolah tak menganggap penting posisi Eun-tae, dan ketegangan itu jadi warna dasar hampir semua adegan mereka berdua.
Eun-tae, bersama rekannya Jung Seon-hyeok, dipanggil rapat oleh atasan. Dalam perjalanan, Seon-hyeok melontarkan teori sederhana soal sikap Jun-ho: karena usianya lebih tua dari Eun-tae, ego itulah yang bikin dia sulit menghormati atasannya sendiri. Dinamika seperti ini, senioritas berdasarkan umur, bukan jabatan, mungkin terasa sangat dekat dengan pengalaman banyak orang di dunia kerja Asia, termasuk Indonesia.
Beban Bernama Laknes
Di rapat, muncul masalah baru: ada brand mewah bernama Laknes yang sudah pernah gagal di pasar Korea Selatan, dan sekarang harus ada tim yang menanganinya lagi. Tidak ada yang mau. Ujung-ujungnya, beban itu dilimpahkan ke tim Eun-tae, dengan alasan yang terdengar agak sembarangan, dianggap lebih “paham” tren karena usianya lebih muda. Sebagai gantinya, dia diminta menyerahkan sebagian brand yang selama ini sudah susah payah dibesarkan timnya ke tim lain.
Eun-tae dan Seon-hyeok lantas ke atap kantor, tempat yang sepertinya sudah jadi ritual mereka setiap kali butuh melampiaskan kekesalan. Seon-hyeok blak-blakan soal betapa melelahkannya politik kantor belakangan ini.
Sementara itu, Jun-ho mengajak anggota tim lain, Ji-hye dan Gi-tae, makan malam tanpa Eun-tae, yang menolak halus ajakan Ji-hye untuk ikut. Di meja makan, Jun-ho diam-diam berjanji akan berusaha membantu Ji-hye, yang berstatus pekerja kontrak, supaya bisa diangkat jadi karyawan tetap. Momen kecil ini penting, ia menunjukkan bahwa Jun-ho, di balik sikapnya yang kurang ajar ke Eun-tae, sebenarnya cukup peduli pada anggota timnya sendiri.
Curhat Sambil Minum, Telepon dari Ibu, dan Akhir Pekan yang Itu-itu Saja
Sepulang kerja, Eun-tae bertemu Hae-joo dari tim legal, yang sudah tahu dia tidak punya rencana apa pun dan langsung mengajaknya minum. Hae-joo tak segan menyebut langsung bahwa Jun-ho kelewat batas dan bertingkah seolah dialah pemimpin tim. Eun-tae mengakui itu memang mengganggunya, tapi selama pekerjaan beres, dia memilih membiarkannya.
Dalam perjalanan pulang, pikiran Eun-tae melayang jauh, mengenang semua usaha untuk masuk universitas bagus, lalu perusahaan besar, dan pada akhirnya rutinitasnya tetap begitu-begitu saja. Sesampainya di rumah, tukang laundry mengabari kemejanya hilang, dan Eun-tae malah bertanya-tanya kapan terakhir kali dia benar-benar merasa marah soal sesuatu. Adegan sekecil ini justru terasa lebih menyentuh dibanding konflik-konflik besar di kantor.
Keesokan paginya, Jun-ho meledak begitu tahu brand-brand timnya akan dipindahkan. Dia langsung menghadapi Eun-tae, menegaskan bahwa timnya selalu kebagian brand yang sekarat, kerja keras membangkitkannya, dan sekarang hasil kerja keras itu malah diberikan ke tim lain. Keluhan itu masuk akal, dan drama ini cukup cerdas untuk tidak membuatnya terdengar seperti orang yang cuma cari gara-gara.
Eun-tae ternyata cukup terbuka pikirannya. Di atap, dia mengakui ke Seon-hyeok bahwa Jun-ho ada benarnya, lalu mendatangi atasannya untuk minta pertimbangan ulang soal Laknes. Sayangnya, atasannya langsung menebak bahwa ini gara-gara Jun-ho, dan menyuruh Eun-tae supaya tidak gampang didikte anak buahnya sendiri. Menurutnya, Jun-ho justru cukup mampu menangani tantangan seberat Laknes. Eun-tae kembali ke mejanya dengan perasaan kalah, sementara Jun-ho terlihat makin kesal.
Malam harinya, dalam momen yang biasa banget sampai terasa ironis kalau diingat lagi, Eun-tae mau beli dua kaleng bir tapi mesin kasir sedang rusak. Dia bayar tunai, dan karena kembaliannya kurang, kasir memberinya selembar tiket lotre sebagai gantinya. Dia bahkan nyaris tidak memikirkannya.
Saat makan malam, ibunya menelepon minta dikirimi uang untuk kakaknya, Eun-seok, yang terseret perkelahian dua kelompok dan sekarang harus menanggung biaya pengobatan korban. Eun-tae menelepon Eun-seok, yang bekerja sebagai petugas keamanan, dan setuju membantu — meski dia terus terang bilang dananya juga pas-pasan, mengingat mahalnya biaya hidup di Seoul.
Episode ini lalu menunjukkan akhir pekan khas Eun-tae: kelas bahasa Prancis, beres-beres rumah, tidak ada yang istimewa. Malam itu, hampir tanpa berpikir panjang, dia iseng mengecek nomor lotre di situs, dan episode ditutup dengan kenyataan bahwa dia baru saja memenangkan hadiah senilai 1,9 miliar won.
Sebagai penutup singkat, Hae-joo digambarkan lembur di kantor, naik ke lantai enam mencari Eun-tae yang ternyata tidak ada di sana. Dia turun lagi, dan tersenyum begitu melihat Eun-tae di luar gedung, petunjuk kecil ke arah mana hubungan mereka berdua mungkin akan berkembang.
Kenapa Episode Pembuka Ini “Lambat” Tapi Tetap Layak Ditonton
Yang menarik dari episode pertama ini adalah keberaniannya untuk tidak terburu-buru. Alih-alih membuka dengan konflik besar, The Ordinary Jackpot memilih menghabiskan waktu membangun rasa jenuh Eun-tae secara perlahan, sampai penonton benar-benar paham kenapa tiket lotre di akhir episode terasa seperti keajaiban kecil, bukan sekadar kebetulan. Ini pilihan yang berisiko untuk episode pembuka, dan saya akui baru terasa hasilnya di beberapa menit terakhir.
Hal yang paling saya suka adalah cara drama ini menolak membuat konflik Laknes jadi hitam-putih. Jun-ho tidak salah kalau dia kesal, timnya memang sudah bekerja keras membangkitkan brand-brand yang tadinya sekarat. Tapi atasan Eun-tae juga tidak sepenuhnya salah; harus ada yang berani ambil risiko soal Laknes, dan cukup masuk akal kalau Eun-tae dianggap orang yang tepat untuk itu. Karena kedua sisi argumen disampaikan lewat percakapan terpisah Eun-tae dengan masing-masing pihak, saya sendiri jadi ikut bingung mana keputusan yang “benar”, dan menurut saya, itu justru kekuatan terbesar naskah episode ini.
Kehadiran Hae-joo juga jadi angin segar. Energinya yang lebih hidup dan blak-blakan jadi kontras yang pas dengan Eun-tae yang serba pasrah, dan interaksi mereka berdua punya chemistry yang terasa natural, seolah membuka pintu untuk sesuatu yang lebih dari sekadar pertemanan nanti.
Secara jujur, sebagian besar The Ordinary Jackpot Episode 1 ini memang belum sepenuhnya “menarik” dalam arti membuat penonton menahan napas. Tapi ini terasa jujur dan realistis, seperti benar-benar mengintip rutinitas seorang manajer kantoran biasa. Untungnya durasi episode tidak terlalu panjang, jadi bagian-bagian yang lambat tidak terasa membosankan. Dengan penutup sekuat itu, saya cukup optimis episode-episode berikutnya akan mulai mempercepat ritmenya, terutama begitu Eun-tae harus benar-benar menghadapi apa artinya punya uang 1,9 miliar won di tengah hidup yang selama ini serba diam-diam terjebak.